Kecerdasan Buatan

OpenAI Pasang Watermark Teks di ChatGPT dan Codex, Apakah Tulisan AI Kini Bisa Dideteksi?

M
Mughu
15 menit baca
OpenAI Pasang Watermark Teks di ChatGPT dan Codex, Apakah Tulisan AI Kini Bisa Dideteksi?

OpenAI mulai memasang watermark teks textGrain di ChatGPT dan Codex untuk pengguna Uni Eropa. Simak cara kerjanya, akurasi deteksi, dan status di Indonesia.

Pada 5 Oktober 2026, OpenAI resmi mengumumkan bahwa teks buatan ChatGPT dan Codex akan diberi watermark tak terlihat. Teknologinya bernama textGrain, dan untuk tahap awal hanya berlaku bagi pengguna di Uni Eropa. Ini adalah langkah OpenAI untuk memenuhi aturan transparansi di EU AI Act, yang mewajibkan teks buatan AI bisa dikenali oleh mesin.

Artikel ini akan menjelaskan apa saja yang diumumkan OpenAI, bagaimana watermark ini bekerja tanpa menambahkan simbol apa pun, seberapa akurat deteksinya, dan apa yang tidak bisa dibuktikan oleh watermark. Ada juga perbandingan dengan watermark milik Claude dan Gemini, ringkasan reaksi pengguna, serta catatan soal statusnya di Indonesia, terutama buat pelajar, mahasiswa, penulis, dan developer.

Apa yang diumumkan OpenAI pada 5 Oktober 2026

OpenAI menjelaskan rencananya lewat tulisan berjudul "Our approach to EU text provenance rules". Isinya bukan satu peluncuran besar sekaligus, melainkan tiga langkah bertahap yang punya cakupan berbeda.

Berikut tiga langkah tersebut:

  1. Watermark di ChatGPT dan Codex khusus Uni Eropa. Dalam beberapa minggu ke depan, teks dari ChatGPT dan Codex untuk pengguna yang memenuhi syarat di Uni Eropa akan diberi watermark. Ini berlaku untuk semua paket, dari gratis sampai berbayar.
  2. Opt-in untuk pelanggan API di seluruh dunia. Mulai 5 Oktober, developer di negara mana pun bisa menyalakan watermark untuk model tertentu. Pengaturannya mati secara default, jadi tidak ada yang berubah kalau developer tidak mengaktifkannya.
  3. Detektor terbatas untuk peneliti. OpenAI membuka pendaftaran akses alat pendeteksi, tetapi hanya untuk peneliti dan organisasi ahli yang disetujui satu per satu. Detektor ini tidak dibuka untuk publik saat peluncuran.

OpenAI juga menegaskan bahwa watermark teks belum menjadi default global. Menurut perusahaan, pendekatan per wilayah ini memberi ruang untuk belajar dari pemakaian nyata sebelum memutuskan langkah berikutnya. OpenAI juga sedang bekerja sama dengan mitra cloud supaya watermark bisa dipakai untuk model OpenAI yang diakses lewat layanan pihak ketiga.

Catatan: Pengumuman ini hanya mengatur teks. Alat verifikasi untuk gambar dan audio, seperti openai.com/verify dan Content Provenance API, tetap bisa diakses publik seperti sebelumnya.

Latar belakangnya adalah Pasal 50 EU AI Act, yang kewajiban transparansinya mulai berlaku pada 2 Agustus 2026. Aturan ini meminta penyedia AI generatif membuat konten buatannya bisa dikenali secara mesin. Uni Eropa juga menerbitkan Code of Practice tentang transparansi konten AI pada 10 Juni 2026, dan sekitar 190 perusahaan serta organisasi sudah menandatanganinya per akhir Juli, termasuk OpenAI, Anthropic, Google, Meta, Microsoft, dan Mistral.

Cara kerja textGrain: tanda ada di pilihan kata, bukan simbol tersembunyi

Banyak orang membayangkan watermark sebagai logo samar atau karakter tak terlihat yang diselipkan di teks. textGrain tidak bekerja seperti itu. Watermark ini adalah sinyal statistik yang tertanam pada pilihan kata model, sehingga tidak ada karakter tambahan yang bisa dihapus begitu saja.

Prosesnya kira-kira seperti ini:

  1. Model memilih kata satu per satu. Saat menulis, model AI menimbang beberapa kandidat kata berikutnya yang sama-sama masuk akal.
  2. Pilihan "sama bagusnya" dipakai sebagai tempat watermark. Kalau ada dua kata yang artinya hampir sama, pemilihannya biasanya diserahkan ke angka acak. textGrain mengganti sumber keacakan itu dengan nilai yang diturunkan dari kunci rahasia dan beberapa kata sebelumnya.
  3. Pola terkumpul sepanjang teks. Satu pilihan kata tidak berarti apa-apa, tetapi ratusan pilihan kecil membentuk pola yang bisa diuji secara statistik.
  4. Detektor hanya butuh teks dan kunci. Menurut laporan teknis OpenAI, detektor tidak perlu tahu pengaturan saat teks dibuat, cukup teksnya dan kunci rahasia.

Laporan teknis berjudul textGrain: Entropy-Calibrated Watermarking for Language Model Text ditulis bersama peneliti dari University of Pennsylvania dan Yale University. Di dalamnya, OpenAI menjelaskan bahwa kekuatan watermark diatur lewat "anggaran entropi", yaitu seberapa banyak keacakan yang boleh dikurangi demi menyisipkan sinyal. Tujuannya supaya jawaban tetap bervariasi dan tidak selalu identik saat prompt yang sama diulang.

Satu hal yang sering ditanyakan di forum adalah apakah watermark ini mengubah model itu sendiri. Jawabannya tidak. Watermark ditambahkan saat proses sampling atau pemilihan kata, bukan dengan mengubah bobot model. Karena tanda itu hidup di dalam kata-kata, watermark ikut terbawa ketika teks di-copy-paste ke Word, Google Docs, atau kolom komentar.

OpenAI juga berencana merilis teknologi textGrain sebagai open source, dan laporan teknisnya akan diperbarui dalam beberapa minggu ke depan.

Seberapa akurat deteksinya dan apa batasannya

Bagian paling menarik dari pengumuman ini justru pengakuan OpenAI soal batasannya. Perusahaan menyebut textGrain menyamai atau melampaui pendekatan lain yang mereka uji, termasuk SynthID for text milik Google DeepMind. Namun, OpenAI juga mengingatkan bahwa hasil bagus di kondisi ideal tidak menjamin deteksi yang andal di pemakaian sehari-hari.

Berikut angka utama dari pengujian OpenAI pada target false positive 1 persen:

  • Panjang teks berpengaruh besar. Watermark terdeteksi pada sekitar 80 persen potongan teks 200 token dan sekitar 95 persen potongan 400 token, untuk konten seperti psikologi.
  • Teks matematika lebih sulit. Tingkat deteksi untuk konten matematika jauh lebih rendah, karena pilihan katanya lebih kaku dan sedikit ruang untuk menyisipkan sinyal.
  • Editing bisa melemahkan watermark. Pada teks 400 token, mengganti 10 persen kata dengan sinonim menurunkan deteksi dari sekitar 92 persen menjadi 66 persen. Mengganti 25 persen kata membuatnya turun ke 17 persen.
  • Terjemahan juga mengganggu. OpenAI menyebut teks yang diterjemahkan termasuk yang sulit dideteksi dengan andal.

Angka false positive 1 persen juga jadi sorotan. Artinya, dari setiap 100 teks tanpa watermark, sekitar satu bisa salah ditandai mengandung watermark. Untuk riset, angka ini mungkin masih wajar. Namun, kalau dipakai untuk menuduh orang menyontek, satu persen bisa berarti banyak orang yang dirugikan.

Soal kualitas jawaban, OpenAI memamerkan tabel benchmark model GPT-6 Astra dengan dan tanpa watermark. Hasilnya nyaris sama: skor Artificial Analysis Intelligence Index 49,57 tanpa watermark dan 49,76 dengan watermark, sementara GPQA Diamond 94,44 persen berbanding 93,94 persen. Di beberapa tes lain seperti Terminal-Bench 4.0, angka versi watermark malah sedikit lebih tinggi, yang menurut sebagian pembaca hanya variasi wajar antar-percobaan.

Peringatan: Karena risiko salah deteksi dan watermark yang terlewat, OpenAI sengaja tidak membuka detektor untuk publik. Situs atau aplikasi yang mengaku bisa "mendeteksi watermark ChatGPT" saat ini patut diragukan.

Apa yang tidak bisa dibuktikan oleh watermark

OpenAI cukup tegas soal ini. Watermark teks hanya memberi sinyal terbatas tentang peran sistem OpenAI dalam sebuah tulisan. Ada lima hal yang menurut OpenAI tidak bisa disimpulkan dari hasil deteksi.

  1. Watermark tidak mengukur kontribusi manusia. Sinyal ini bisa menunjukkan bahwa sistem OpenAI membuat atau memproses sebagian teks, tetapi tidak bisa mengukur seberapa banyak ide, editan, atau kreativitas dari penulisnya.
  2. Watermark tidak menentukan kepemilikan. Hasil deteksi tidak menjawab siapa pemilik teks, apakah pemakaiannya sah, atau siapa yang bertanggung jawab.
  3. Watermark tidak mengidentifikasi pengguna. Tidak ada informasi akun, organisasi, prompt, atau percakapan yang tertanam. Detektor hanya melaporkan ada atau tidaknya watermark OpenAI.
  4. Watermark tidak memverifikasi kebenaran. Teks yang terdeteksi tidak otomatis salah, dan teks yang tidak terdeteksi tidak otomatis benar.
  5. Tidak ada watermark bukan bukti tulisan manusia. Teks bisa terlalu pendek, sudah diedit, diterjemahkan, dibuat oleh model lama yang belum diberi watermark, atau berasal dari AI perusahaan lain.

Poin kelima ini penting untuk dipahami. Watermark bukan "alat pendeteksi AI" dalam arti umum. Ia hanya bisa menjawab pertanyaan sempit: apakah teks ini membawa pola milik OpenAI. Kalau sebuah esai dibuat dengan model open source atau model lain tanpa watermark, detektor OpenAI tidak akan menemukan apa-apa.

Ini juga perbedaannya dengan detektor AI komersial seperti Pangram atau fitur deteksi AI di layanan cek plagiarisme. Alat-alat itu tidak punya kunci rahasia OpenAI, sehingga mereka menebak dari ciri gaya tulisan. Contohnya bisa dilihat dari studi Graphite yang dibahas Kompas Tekno pada 5 Oktober 2026: Claude Opus 5.5 hampir berhenti memakai tanda pisah panjang (em dash) yang dulu dianggap ciri khas AI, sehingga tebakan berbasis gaya jadi makin tidak bisa diandalkan.

Perbedaannya dengan watermark Claude dan Gemini

OpenAI bukan perusahaan pertama yang memasang watermark teks. Google sudah memakai SynthID-Text di Gemini sejak 2024 dan merilis teknologinya sebagai open source. Anthropic menyusul pada Agustus 2026 dengan versi SynthID-Text yang diadaptasi untuk Claude. Bedanya ada di cakupan wilayah, akses detektor, dan cara peluncurannya.

Aspek ChatGPT dan Codex (OpenAI) Claude (Anthropic) Gemini (Google)
Teknologi textGrain (buatan sendiri) Versi SynthID-Text SynthID-Text
Mulai berlaku Bertahap mulai Oktober 2026 Model baru sejak 2 Agustus 2026 Sejak 2024
Wilayah Uni Eropa saja (ChatGPT dan Codex) Global, semua produk Claude Model Gemini
API Opt-in, mati secara default Ikut aktif di tingkat model Bagian dari SynthID
Akses detektor Peneliti dan organisasi ahli terpilih API detektor private preview untuk regulator, media, lembaga pendidikan, dan pihak wajib lainnya Teknologi open source

Ada beberapa catatan dari tabel di atas:

  • Claude berlaku global. Anthropic menyatakan belum punya cara yang andal untuk membatasi watermark per wilayah, sehingga semua produk Claude ikut diberi watermark, termasuk API, Claude Code, dan Claude Cowork. Model lama sedang dipasangi watermark secara bertahap dalam beberapa bulan.
  • ChatGPT di luar Eropa belum. Inilah perbedaan terbesar. Pengguna ChatGPT di Indonesia tidak otomatis mendapat watermark pada tahap awal ini.
  • Gambar punya jalur sendiri. Untuk gambar dan file, OpenAI dan Anthropic sama-sama memakai Content Credentials C2PA, yaitu catatan metadata bertanda tangan digital. OpenAI juga menyisipkan watermark SynthID pada gambar dan audio yang didukung.

Anthropic juga menjelaskan bahwa watermark lebih jarang muncul pada teks faktual dan kode. Alasannya sederhana: kalau hanya ada satu jawaban yang benar, model tidak punya ruang memilih kata lain. Ini sejalan dengan temuan OpenAI bahwa teks matematika lebih sulit dideteksi.

Konteks lain yang menarik datang dari laporan The Wall Street Journal pada 2024. Saat itu disebutkan OpenAI sudah lama memiliki teknologi watermark teks, tetapi menahannya, salah satunya karena khawatir pengguna pindah ke layanan pesaing yang tidak memakai watermark. Aturan Uni Eropa kini membuat semua pemain besar berada di posisi yang sama, setidaknya di pasar Eropa.

Reaksi pengguna dan developer

Tanggapan di komunitas teknologi cenderung skeptis. Di Hacker News, diskusi soal pengumuman OpenAI ramai dalam hitungan jam, dan polanya mirip dengan reaksi ketika Anthropic mengumumkan watermark Claude pada Agustus lalu.

Beberapa keluhan dan perdebatan yang paling sering muncul:

  1. "Tinggal ganti kata saja." Banyak komentator mengutip angka OpenAI sendiri: mengganti 25 persen kata membuat deteksi anjlok ke 17 persen. Ada yang bercanda bahwa cukup meminta AI lain untuk memparafrasekan teks.
  2. False positive 1 persen dianggap terlalu besar. Sebagian developer menilai angka ini tidak bisa diterima kalau dipakai untuk menilai karya orang, dan watermark hanya akan menangkap konten asal-asalan.
  3. Pemakaian AI itu spektrum. Pengguna yang memakai AI untuk merapikan kode atau tulisan sendiri merasa keberatan kalau hasilnya ditandai sebagai buatan AI. Kekhawatiran serupa muncul di kalangan pengguna Claude, yang merasa sudah memberi instruksi, konteks, dan keputusan, sementara AI hanya alat.
  4. Privasi percakapan pribadi. Di forum komunitas OpenAI, ada pengguna yang keberatan karena kata-kata dalam percakapan pribadinya ikut "diubah" demi aturan, padahal teks itu tidak pernah dibagikan ke siapa pun.
  5. Pindah ke model lain. Di Reddit dan Hacker News, cukup banyak yang menyebut akan beralih ke model open-weight atau model dari Tiongkok untuk tugas non-coding.

Di sisi lain, ada juga yang membela. Beberapa komentator menilai aturan tetap berguna meskipun bisa diakali, karena keberadaan watermark membuat niat buruk lebih mudah dibuktikan. Contohnya ketika seseorang menjual tulisan dengan klaim bebas AI, padahal sengaja menghapus watermark. Ada juga yang menjelaskan bahwa watermark dipilih ketimbang tanda tangan digital karena sasaran aturan ini justru orang yang ingin menipu, yang tentu tidak akan mau menambahkan tanda tangan secara sukarela.

Apakah berlaku di Indonesia? Catatan untuk pelajar, kampus, dan developer

Untuk saat ini, jawabannya belum untuk ChatGPT dan Codex versi konsumen. OpenAI menyatakan watermark hanya diterapkan untuk pengguna yang memenuhi syarat di Uni Eropa, dan tidak dijadikan default global saat peluncuran. OpenAI juga belum merinci bagaimana status "pengguna di Uni Eropa" ditentukan, misalnya berdasarkan lokasi akun atau lokasi saat memakai layanan.

Meski begitu, ada beberapa hal yang tetap relevan buat pembaca di Indonesia:

  • Claude sudah diberi watermark secara global. Kalau tugas, artikel, atau laporan ditulis memakai Claude, teksnya membawa watermark di mana pun penggunanya berada, terutama untuk model yang dirilis setelah 2 Agustus 2026.
  • Developer bisa menyalakan watermark lewat API. Startup atau tim produk di Indonesia yang melayani pengguna Eropa, atau sekadar ingin transparan, kini bisa mengaktifkan watermark untuk model OpenAI tertentu.
  • Kampus belum bisa memakai detektor OpenAI. Detektor hanya untuk peneliti dan organisasi ahli yang disetujui. Artinya, dosen atau sekolah di Indonesia belum punya cara resmi untuk mengecek watermark ChatGPT.
  • Detektor AI berbasis gaya tetap rawan salah. Hasil cek AI dari layanan pihak ketiga sebaiknya diperlakukan sebagai petunjuk, bukan vonis, apalagi kalau hasilnya dipakai untuk sanksi akademik.

Dari sisi regulasi, Indonesia juga sedang bergerak ke arah yang mirip. Pada Januari 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyampaikan di DPR bahwa pihaknya menyiapkan rancangan Peraturan Menteri yang mewajibkan konten AI generatif diberi watermark atau label. Konten yang melanggar terancam diturunkan, dengan sanksi mengacu pada UU ITE. Aturan ini disiapkan bersama dua rancangan Peraturan Presiden, yaitu Peta Jalan AI Nasional dan etika pemanfaatan AI. Sampai artikel ini ditulis, belum ada informasi resmi bahwa Permen tersebut sudah terbit.

Tips: Buat pelajar dan mahasiswa, cara paling aman tetap transparan soal pemakaian AI sesuai aturan kampus masing-masing. Watermark bisa melemah setelah diedit, tetapi kebijakan kampus dan aturan yang sedang disiapkan pemerintah bisa saja berubah lebih ketat.

Untuk penulis konten, agensi, dan UMKM yang memakai ChatGPT untuk caption atau artikel, perubahan ini belum berdampak langsung. Namun, kalau kliennya berada di Eropa atau kontennya ditujukan ke pasar Eropa, ada baiknya mulai mencatat bagian mana yang dibantu AI, karena kewajiban transparansi di sana sudah berlaku.

Poin penting

  • OpenAI mengumumkan watermark teks textGrain pada 5 Oktober 2026 untuk memenuhi Pasal 50 EU AI Act.
  • ChatGPT dan Codex di Uni Eropa akan diberi watermark untuk semua paket dalam beberapa minggu ke depan.
  • Pelanggan API di seluruh dunia bisa opt-in, sedangkan pengaturan default tetap mati.
  • Detektor hanya untuk peneliti dan organisasi ahli terpilih, belum untuk publik.
  • Mengganti 25 persen kata dengan sinonim menurunkan deteksi dari sekitar 92 persen ke 17 persen.
  • Watermark tidak mengidentifikasi pengguna dan tidak membuktikan siapa penulisnya.
  • ChatGPT di Indonesia belum diberi watermark secara default, sementara Claude sudah diberi watermark secara global.

Referensi

  1. OpenAI (2026). Our approach to EU text provenance rules
  2. OpenAI (2026). textGrain: Entropy-Calibrated Watermarking for Language Model Text
  3. OpenAI Help Center (2026). Provenance signals in OpenAI-generated content
  4. OpenAI Developer Community (2026). OpenAI's approach to EU text provenance rules
  5. The Verge (2026). OpenAI is adding text watermarking in ChatGPT and Codex
  6. TechCrunch (2026). OpenAI will start watermarking ChatGPT's text in the EU
  7. Unite.AI (2026). OpenAI Begins Phased Text Watermarking Under EU AI Act Rules
  8. Anthropic (2026). How Claude's text watermark works
  9. The Verge (2026). Anthropic explains how Claude's invisible text watermarks will work
  10. The Decoder (2026). Anthropic watermarks all Claude outputs globally with marks that may persist through some editing
  11. Hacker News (2026). Diskusi "Our approach to EU text provenance rules"
  12. Reddit r/LocalLLaMA dan r/europe (2026). Diskusi Code of Practice transparansi konten AI dan watermark teks
  13. Kompas Tekno (2026). Tulisan Claude Makin Mirip Manusia, tapi Masih Ada Ribuan Ciri Khas AI
  14. ANTARA News (2026). Kemkomdigi siapkan aturan konten buatan AI wajib diberi label

Pertanyaan Umum

Apakah tulisan ChatGPT sekarang bisa dideteksi?
Untuk pengguna di Uni Eropa, teks ChatGPT dan Codex akan membawa watermark textGrain dalam beberapa minggu ke depan. Namun, detektornya belum dibuka untuk publik dan hanya diberikan kepada peneliti serta organisasi ahli yang disetujui. Di luar Eropa, termasuk Indonesia, ChatGPT belum memasang watermark secara default.
Apakah watermark ChatGPT berlaku untuk pengguna di Indonesia?
Belum. OpenAI menyatakan watermark di ChatGPT dan Codex hanya diterapkan di Uni Eropa pada tahap awal dan tidak dijadikan default global. Developer di Indonesia yang memakai API bisa menyalakannya secara opt-in untuk model tertentu, tetapi pengaturan bawaannya tetap mati.
Bagaimana cara kerja watermark textGrain?
textGrain tidak menambahkan simbol atau karakter tersembunyi. Watermark ini memengaruhi pilihan kata model saat ada beberapa kata yang sama-sama cocok, memakai kunci rahasia dan kata-kata sebelumnya. Ratusan pilihan kecil itu membentuk pola statistik yang bisa dikenali detektor yang memegang kuncinya.
Apakah watermark bisa hilang kalau teks diedit atau diterjemahkan?
Bisa melemah cukup jauh. Dalam pengujian OpenAI pada teks 400 token, mengganti 10 persen kata dengan sinonim menurunkan deteksi dari sekitar 92 persen menjadi 66 persen, dan mengganti 25 persen kata menurunkannya ke 17 persen. Teks pendek, teks matematika, dan hasil terjemahan juga lebih sulit dideteksi.
Apakah watermark bisa melacak akun atau isi percakapan pengguna?
Tidak. OpenAI menyatakan watermark tidak mengaitkan teks dengan orang, organisasi, akun, prompt, atau percakapan tertentu. Detektor hanya melaporkan apakah teks mengandung watermark OpenAI atau tidak. Anthropic juga memberi jaminan serupa untuk watermark Claude.
Apa bedanya watermark ChatGPT dengan watermark Claude?
ChatGPT memakai teknologi textGrain buatan OpenAI dan hanya diterapkan di Uni Eropa, sedangkan API bersifat opt-in. Claude memakai versi SynthID-Text dari Google DeepMind dan diterapkan secara global di semua produk Claude, termasuk API dan Claude Code. Keduanya sama-sama belum membuka detektor untuk publik umum.

Kesimpulan

OpenAI resmi masuk ke era watermark teks dengan textGrain, tetapi langkahnya hati-hati. Watermark hanya dipasang di ChatGPT dan Codex untuk pengguna Uni Eropa, API dibuat opt-in, dan detektornya dibatasi untuk peneliti. OpenAI sendiri terbuka soal kelemahannya: teks pendek, terjemahan, dan editan ringan sudah cukup untuk menurunkan tingkat deteksi secara drastis.

Bagi pembaca di Indonesia, ChatGPT belum diberi watermark secara default, sementara Claude sudah memasangnya secara global dan Komdigi juga sedang menyiapkan aturan label konten AI. Karena itu, watermark sebaiknya dipahami sebagai sinyal terbatas, bukan alat untuk memvonis siapa penulis sebuah teks. Yang paling aman tetap jujur soal pemakaian AI dan mengikuti aturan sekolah, kampus, atau klien masing-masing.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!

Tinggalkan komentar