Software
ArtCraft Rilis 7 Aplikasi Gratis Mirip Photoshop dan Premiere, Ini Isi dan Kekurangannya
ArtCraft merilis tujuh aplikasi gratis dan open source yang meniru Photoshop, Premiere, Illustrator, Lightroom, Acrobat, After Effects, dan InDesign. Cek isi ti

Tim ArtCraft merilis tujuh aplikasi kreatif gratis yang tampilannya sengaja dibuat mirip software Adobe. Ada PhotoCraft yang meniru Photoshop, FilmCraft yang meniru Premiere Pro, sampai DesignCraft yang menyasar InDesign. Semuanya open source, ditulis dari nol dengan bahasa pemrograman Rust, dan bisa dipakai tanpa akun maupun langganan.
Artikel ini akan menjelaskan isi ketujuh aplikasi tersebut, seberapa siap PhotoCraft dipakai saat ini, kekurangan yang diakui sendiri oleh pembuatnya, dan perbandingannya dengan pilihan gratis yang sudah lama ada seperti GIMP dan Photopea. Di bagian akhir ada catatan praktis buat desainer, kreator, dan pelajar di Indonesia yang sedang mencari pengganti Adobe yang lebih ramah di kantong.
Daftar 7 aplikasi ArtCraft dan padanannya di Adobe
ArtCraft menyebut koleksi ini sebagai Crafting Apps. Pengumumannya pertama kali muncul di Reddit sekitar 2 Oktober 2026, lalu ramai dibahas di Hacker News dan diliput media teknologi seperti Ars Technica dan GIGAZINE. Setiap aplikasi punya padanan yang jelas di keluarga Adobe Creative Cloud:
| Aplikasi ArtCraft | Meniru | Fungsi utama | Status di situs resmi |
|---|---|---|---|
| PhotoCraft | Photoshop | Edit foto, layer, mask, file PSD | Early alpha |
| VectorCraft | Illustrator | Ilustrasi vektor, pen tool, SVG/PDF | In development |
| FilmCraft | Premiere Pro | Edit video multi-track, color grading | In development |
| LightCraft | Lightroom | Katalog foto dan olah RAW | In development |
| PrintCraft / PdfCraft | Acrobat Pro | Baca, gabung, pisah, dan amankan PDF | Early alpha |
| EffectCraft | After Effects | Motion graphics dan efek visual | In development |
| DesignCraft | InDesign | Tata letak halaman dan publikasi | In development |
Ada beberapa hal yang sama di semua aplikasi tersebut:
- Open source dengan lisensi MIT atau Apache 2.0, jadi kodenya bisa dibaca, dimodifikasi, dan dipakai ulang.
- Native, bukan aplikasi web yang dibungkus Electron. Aplikasinya berjalan langsung di macOS, Windows, dan Linux.
- Offline. File diproses di komputer sendiri, tanpa server lisensi dan tanpa wajib login.
- Bisa jalan di browser. Enam aplikasi, kecuali FilmCraft, juga tersedia versi WebAssembly yang bisa dibuka di tab browser.
- Bisa dikendalikan agen AI lewat command line (CLI), kanal kontrol berformat JSON, atau server MCP.
Catatan: Di halaman resmi, aplikasi PDF kini tertulis sebagai PdfCraft, sementara repositori GitHub dan beberapa liputan masih memakai nama PrintCraft. Isinya sama.
PhotoCraft, aplikasi yang paling siap dicoba
Dari ketujuh aplikasi, PhotoCraft adalah yang paling matang. Versi terbarunya di situs resmi adalah 0.3.0, naik dari 0.2.0 yang dirilis saat pengumuman awal. Installer sudah tersedia untuk macOS (Universal, bisa di Mac Apple Silicon maupun Intel), Windows 64-bit, 32-bit, dan ARM64, Linux dalam bentuk AppImage, serta FreeBSD.
Fitur yang sudah ada cukup banyak untuk ukuran aplikasi yang baru berumur beberapa minggu:
- Layer lengkap, termasuk group, clipping mask, mask piksel dan vektor, smart object dengan smart filter, serta 27 blend mode.
- 16 adjustment layer, seperti Curves, Levels, Black & White, Hue/Saturation, dan Color Lookup yang bisa membaca file LUT
.cube. - Lebih dari 70 filter dengan pratinjau langsung, termasuk Blur Gallery.
- Layer style seperti Drop Shadow, Stroke, Outer Glow, dan Bevel & Emboss yang bisa dipasang di layer teks.
- Seleksi pintar seperti Select Subject dan Object Selection yang berjalan di perangkat, tanpa mengirim foto ke cloud.
- Warna serius, yaitu dokumen 8, 16, dan 32-bit dalam mode RGB, CMYK, Lab, dan Grayscale dengan manajemen warna ICC dan soft proofing.
Klaim yang paling menarik perhatian adalah dukungan file PSD dan PSB. Menurut ArtCraft, 134 dari 135 file PSD uji coba bisa dibuka lalu disimpan lagi tanpa perubahan sedikit pun. Ini penting, karena file PSD dari klien atau template desain biasanya jadi alasan utama orang tetap bertahan di Photoshop.

Menu, shortcut, dan tata letak panelnya juga dibuat semirip mungkin dengan Photoshop. Tujuannya jelas: orang yang sudah terbiasa dengan Photoshop bisa langsung bekerja tanpa harus belajar ulang dari awal.
FilmCraft dan aplikasi lain masih tahap pengembangan
Lima aplikasi lainnya masih berlabel in development, meski installer-nya sudah bisa diunduh. Masing-masing sudah punya fondasi fitur yang lumayan:
- FilmCraft punya source dan program monitor, timeline multi-track, trimming, multicam, color grading dengan curves, color wheels, HSL, dan LUT, sekitar 55 efek video, 30 transisi, keyframe, serta pengukur loudness standar EBU R128.
- VectorCraft sudah mendukung pen tool, operasi Boolean, gradient mesh, image tracing dari gambar biasa ke vektor, serta impor dan ekspor SVG dan PDF.
- LightCraft bisa mengolah file RAW seperti DNG, CR2, ARW, NEF, dan RAF dengan decoder buatan sendiri, lengkap dengan mask untuk langit, subjek, dan latar.
- EffectCraft mengklaim punya 259 jenis efek, layer 3D dengan kamera dan lampu, dan dukungan ekspresi JavaScript. Namun aplikasi ini belum bisa membuka file proyek After Effects (AEP).
- DesignCraft mendukung parent page, text frame yang saling tersambung, paragraph style, dan ekspor PDF siap cetak dengan CMYK dan bleed.
Hal unik dari FilmCraft adalah aplikasi ini tidak memakai FFmpeg. Codec H.264, HEVC, ProRes, dan AAC ditulis sendiri dalam Rust berdasarkan spesifikasi publik. Hasilnya, FilmCraft sudah bisa ekspor H.264, ProRes, dan DNxHR, tetapi format seperti HEVC, VP9, dan AV1 sejauh ini baru bisa dibaca. Menurut dokumentasinya, ekspor H.265 hanya tersedia lewat encoder hardware di macOS dan di Windows dengan GPU NVIDIA.

Tim FilmCraft sendiri memberi dua angka yang cukup jujur. Dari sisi daftar fitur Premiere, mereka mengklaim sudah sekitar 87%. Namun untuk kesiapan dipakai di proyek sungguhan, mereka menilainya baru 50–60%. Celah terbesarnya ada di kecepatan saat mengolah footage besar, belum adanya jalur hardware decoding di Linux, dan belum ada dukungan plugin seperti VST3 atau OpenFX.
Gratis beneran? Begini model bisnisnya
Pertanyaan pertama yang muncul di Hacker News adalah "apa jebakannya?". Jawabannya cukup sederhana. Seluruh Crafting Apps memang gratis dan tidak punya versi berbayar. Tidak ada fitur yang dikunci, tidak ada akun, dan tidak ada langganan.
Uangnya datang dari produk lain. Sebelum merilis Crafting Apps, ArtCraft sudah lebih dulu punya studio AI untuk membuat gambar dan video. Studio itu memakai sistem kredit dengan paket mulai US$8 per bulan (Basic), lalu US$28 (Pro) dan US$48 (Max) yang ditagih tahunan, menurut ringkasan The Open Source Drop. Brandon Thomas, developer di balik proyek ini, menulis di Hacker News bahwa pemasukan dari layanan AI itulah yang akan membiayai pengembangan aplikasi gratisnya.
Ada beberapa catatan kecil soal lisensi:
- Kode bebas dipakai di bawah MIT atau Apache 2.0, termasuk untuk keperluan komersial.
- Logo ArtCraft adalah merek dagang, jadi siapa pun yang mendistribusikan versi modifikasi harus menghapus logonya.
- PhotoCraft tidak punya fitur AI generatif secara bawaan. Opsi pembuatan gambar AI hanya muncul sebagai pilihan yang terhubung ke layanan ArtCraft atau model pihak ketiga.
Tips: Kalau tujuannya hanya edit foto biasa, tidak perlu membeli kredit apa pun. Kredit hanya relevan bagi yang ingin membuat gambar atau video dengan AI di studio ArtCraft.
Kekurangan yang perlu diketahui sebelum pindah
Bagian ini penting, karena tampilan yang mirip Photoshop bisa memberi kesan bahwa aplikasinya sudah selengkap Photoshop. Faktanya belum. Di halaman GitHub-nya, tim PhotoCraft menulis terang-terangan bahwa aplikasi ini belum layak menggantikan Photoshop untuk pekerjaan profesional sehari-hari.
Beberapa kekurangan yang tercatat di dokumentasi resmi dan laporan pengguna:
- Paritas nyata masih di bawah 50%. Dalam "penilaian paritas jujur" per 5 Oktober 2026, tim menyebut kemampuan setara Photoshop yang sebenarnya masih jauh di bawah separuh, meski hampir semua menu sudah tersambung ke perintah.
- Sekitar 20 tool belum ada, ditambah fitur AI generatif seperti Generative Fill dan dukungan plugin Photoshop.
- Banyak pengaturan belum berfungsi. Per 5 Oktober, scorecard internal mereka mencatat 67 dari 129 preferensi belum dibaca oleh aplikasi.
- Masih rawan crash di file berat. Skenario uji dengan 150 layer sempat membuat compositor GPU crash.
- Olah RAW masih lemah. Pengguna Hacker News membandingkan hasil RAW di LightCraft dan PhotoCraft dengan Lightroom, dan hasilnya disebut jauh berbeda.
- PSD tidak selalu sempurna. Seorang pengguna menemukan dua file uji yang tampilannya berubah setelah disimpan ulang.
Ada juga persoalan hukum yang masih jadi bahan diskusi. Ars Technica mencatat bahwa rekayasa ulang perangkat lunak umumnya dianggap sah, tetapi ArtCraft tetap bisa menghadapi masalah kalau tampilan antarmukanya dinilai terlalu meniru "trade dress" Adobe. Sejauh ini belum ada kabar gugatan dari Adobe.
Baca juga Claude Code di Cursor Disusupi Malware, Begini Cara Ceknya
Peringatan: Jangan memakai PhotoCraft sebagai satu-satunya alat untuk file klien yang penting. Selalu simpan salinan PSD asli sebelum mencoba membuka dan menyimpannya di aplikasi ini.
Dibuat dengan bantuan AI, ini yang jadi perdebatan
Brandon Thomas mengaku membangun aplikasi-aplikasi ini dengan bantuan model AI Claude Opus 5.5 dari Anthropic. Ia menyebut hasilnya sebagai clean-room replacement, artinya dibuat ulang hanya dari spesifikasi publik, pengamatan perilaku aplikasi, dan makalah terbuka, tanpa menyalin kode, ikon, atau aset milik Adobe.
Klaimnya juga cukup berani. Di Reddit, ia sempat menulis bahwa paritas fitur 100% akan tercapai dalam sebulan. Beberapa hari kemudian di Hacker News, targetnya dikoreksi menjadi "99% paritas akan butuh waktu, tapi hitungannya bulan, bukan tahun". Ia juga menyebut motivasinya adalah kesal dengan biaya pembatalan langganan Adobe yang dianggap menjebak.
Sebagian komunitas skeptis. Ada yang menilai kodenya sebagai hasil vibe coding yang belum benar-benar diuji di pekerjaan nyata. Ada juga yang mempertanyakan apakah istilah "clean-room" masih tepat kalau sebagian besar kodenya ditulis oleh AI. Di sisi lain, banyak developer melihat proyek ini sebagai tanda bahwa membuat ulang software besar kini jauh lebih murah dibanding beberapa tahun lalu.
Reaksi pengguna di X dan Hacker News
Di X, pengumuman ini menyebar cepat ke berbagai bahasa, dari Inggris, Spanyol, Jepang, sampai Mandarin. Beberapa pola reaksi yang paling sering muncul:
- Antusias soal daftar padanannya. Banyak unggahan, misalnya dari akun @tahasdx dan @atif_0075, membagikan daftar "Photoshop menjadi PhotoCraft, Premiere menjadi FilmCraft" dan seterusnya. Daftar sederhana ini yang membuat proyeknya cepat viral.
- Penasaran soal teknologinya. Akun @Bjorkbat mencatat bahwa aplikasi utama ArtCraft dibungkus dengan Tauri, sementara PhotoCraft benar-benar ditulis murni dengan Rust.
- Khawatir soal gugatan. Akun @gubatron bertanya-tanya apakah ArtCraft akan digugat Adobe, meski belum ada tanda ke arah sana.
- Komunitas mulai ikut mengembangkan. Akun @LivingInHarmony mengumumkan port PhotoCraft untuk PC HarmonyOS, contoh nyata bahwa lisensi terbuka langsung dimanfaatkan.
Di Hacker News, utas utama mengumpulkan lebih dari 120 poin dan puluhan komentar. Ada yang kagum dengan kecepatan FilmCraft saat dibuka, ada yang menyoroti kelemahan RAW, dan ada pengguna Linux yang senang karena akhirnya punya alternatif selain GIMP dan Inkscape. Satu komentar yang cukup mewakili suasana adalah ajakan untuk "cek lagi setahun ke depan", karena perkembangan proyek seperti ini bisa sangat cepat.
Banding singkat dengan GIMP, Photopea, dan Krita
Sebelum ArtCraft muncul, pilihan gratis untuk menggantikan Photoshop biasanya jatuh ke GIMP, Photopea, atau Krita. Perbandingan sederhananya seperti ini:
| Aspek | PhotoCraft | GIMP | Photopea | Krita |
|---|---|---|---|---|
| Biaya | Gratis total | Gratis | Gratis dengan iklan, opsi bayar | Gratis |
| Tampilan mirip Photoshop | Sangat mirip | Berbeda | Mirip | Berbeda |
| File PSD berlapis | Buka dan simpan | Impor saja | Buka dan simpan | Terbatas |
| Jalan offline | Ya | Ya | Perlu browser | Ya |
| Kematangan | Early alpha | Matang | Matang | Matang |
| Paling cocok untuk | Coba-coba, buka PSD | Edit foto serius | Edit PSD cepat | Menggambar digital |
Kesimpulannya, PhotoCraft unggul di tampilan yang familier dan dukungan PSD yang serius, tetapi kalah jauh soal kematangan. Untuk pekerjaan yang harus jadi hari ini, GIMP dan Photopea masih lebih bisa diandalkan. Buat yang sudah memakai PhotoGIMP agar GIMP terasa seperti Photoshop, PhotoCraft bisa dicoba sebagai pembanding, bukan pengganti.
Catatan buat desainer dan kreator di Indonesia
Daya tarik terbesar ArtCraft buat pengguna di Indonesia jelas soal biaya. Di situs resmi Adobe Indonesia, satu aplikasi seperti Photoshop atau Premiere Pro dihargai sekitar Rp150.738 per bulan dengan komitmen tahunan, atau kira-kira Rp1,8 juta setahun. Paket lengkap Creative Cloud Pro mencapai sekitar Rp560.106 per bulan. Pembayarannya pun umumnya butuh kartu kredit, yang tidak dimiliki semua orang.
Berikut beberapa hal praktis yang perlu diperhatikan:
- Pelajar dan mahasiswa desain bisa memakai PhotoCraft untuk latihan layer, mask, dan adjustment, karena tampilannya mirip dengan yang diajarkan di kelas.
- UMKM dan penjual online yang hanya butuh edit foto produk sederhana bisa mencobanya, tetapi untuk hasil yang konsisten, Photopea atau Canva masih lebih aman sementara ini.
- Freelancer yang menerima file PSD klien sebaiknya tetap punya Photoshop atau minimal Photopea sebagai cadangan, sampai PhotoCraft lebih stabil.
- Laptop lama atau 32-bit masih kebagian, karena PhotoCraft menyediakan installer Windows 32-bit dan versi portable yang tidak perlu instalasi.
- Bahasa antarmuka masih dalam bahasa Inggris. Belum ada tanda dukungan bahasa Indonesia, jadi istilah menunya sama seperti di Photoshop versi Inggris.
Satu hal lagi yang relevan adalah soal software bajakan. Banyak pengguna di Indonesia masih memakai Photoshop atau Premiere crack karena mahalnya langganan. Aplikasi gratis yang legal seperti ini memberi pilihan yang lebih aman dari risiko malware, meski fiturnya belum lengkap.
Cara mencoba PhotoCraft dengan aman
Buat yang penasaran, ada dua jalur untuk mencoba PhotoCraft. Jalur paling mudah adalah mengunduh installer dari situs resmi getartcraft.com atau halaman Releases di GitHub storytold/photocraft. Langkah amannya kurang lebih begini:
- Unduh hanya dari sumber resmi, yaitu situs ArtCraft atau GitHub storytold. Hindari situs pihak ketiga yang menawarkan "versi lengkap".
- Cek checksum SHA-256 yang disediakan, terutama kalau mengunduh versi portable.
- Uji dengan salinan file, bukan file asli. Buka beberapa PSD lama, simpan ulang, lalu bandingkan hasilnya.
- Laporkan masalah lewat GitHub Issues atau Discord ArtCraft, lengkap dengan sistem operasi, ukuran dokumen, jumlah layer, dan screenshot.
Untuk yang terbiasa dengan terminal, PhotoCraft juga bisa dijalankan langsung dari kode sumber. Syaratnya adalah Rust versi 1.90 atau yang lebih baru:
git clone https://github.com/storytold/photocraft.git
cd photocraft
cargo run --release -p photocraft
PhotoCraft juga menyediakan perintah photocraft-cli untuk otomasi, misalnya mengolah banyak foto sekaligus dengan satu set aksi, atau menjalankan server MCP agar bisa dikendalikan asisten AI. Fitur ini menarik buat yang sering mengedit foto produk dalam jumlah banyak.
Poin penting
- ArtCraft merilis tujuh aplikasi gratis dan open source yang meniru Photoshop, Illustrator, Premiere, Lightroom, Acrobat, After Effects, dan InDesign.
- PhotoCraft versi 0.3.0 adalah yang paling siap, dengan installer untuk macOS, Windows, Linux, dan FreeBSD.
- Dukungan PSD jadi nilai jual utama, dengan klaim 134 dari 135 file uji tersimpan ulang tanpa perubahan.
- Pembuatnya sendiri mengakui paritas nyata dengan Photoshop masih di bawah 50%.
- FilmCraft belum memakai FFmpeg dan baru bisa ekspor H.264, ProRes, dan DNxHR secara software.
- Untuk pekerjaan klien, GIMP dan Photopea masih lebih aman dipakai sementara ini.
Referensi
- Ars Technica (2026). "Software is over": Bold AI developer takes aim at Adobe with open source clones
- GIGAZINE (2026). ArtCraft Crafting Apps is a collection of free Adobe alternative apps
- ArtCraft (2026). Crafting Apps: open-source creative tools
- ArtCraft (2026). PhotoCraft: The image editor you already know how to use
- GitHub storytold (2026). PhotoCraft README
- GitHub storytold (2026). PhotoCraft Roadmap: Honest parity assessment
- GitHub storytold (2026). FilmCraft README
- The Open Source Drop (2026). photocraft
- Hacker News (2026). Adobe Creative Suite Cleanroom Port to Rust
- Reddit r/Adobe (2026). PhotoCraft: I've created an open source 100% Rust clean-room clone of 7 of Adobe's apps
- Adobe Indonesia (2026). Paket, Harga, dan Keanggotaan Adobe Creative Cloud
- Payor (2026). Harga Adobe Creative Cloud 2026: Rupiah dan Cara Bayar
- Stack Sheriff (2026). Photoshop Alternative Open Source: GIMP, Krita, Photopea
- X (2026). Unggahan @tahasdx, @Bjorkbat, @gubatron, dan @LivingInHarmony soal ArtCraft
Pertanyaan Umum
Apakah aplikasi ArtCraft benar-benar gratis?
Apakah PhotoCraft bisa membuka file PSD dari Photoshop?
Apakah PhotoCraft sudah bisa menggantikan Photoshop?
Apakah FilmCraft bisa dipakai untuk edit video YouTube atau TikTok?
Apakah ArtCraft tersedia dalam bahasa Indonesia?
Kesimpulan
ArtCraft membawa kabar menarik buat siapa pun yang lelah dengan biaya langganan Adobe. Tujuh aplikasi gratis dengan tampilan yang sangat mirip Photoshop, Premiere, dan kawan-kawannya jelas menggoda, apalagi dengan dukungan PSD yang serius dan installer yang sudah tersedia untuk Windows, macOS, dan Linux.
Namun untuk sekarang, ArtCraft lebih tepat dianggap sebagai proyek yang layak dipantau dan dicoba, bukan pengganti penuh. Pembuatnya sendiri mengakui paritas nyata masih di bawah separuh. Buat pelajar dan pengguna hobi di Indonesia, PhotoCraft sudah enak dipakai untuk latihan, sementara pekerjaan klien sebaiknya tetap mengandalkan aplikasi yang sudah matang sampai versi berikutnya terbukti stabil.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!
Tinggalkan komentar