Software

Zoom Siapkan Fitur Deteksi Deepfake, Bisa Tandai Peserta Palsu Saat Video Call

M
Mughu
11 menit baca
Zoom Siapkan Fitur Deteksi Deepfake, Bisa Tandai Peserta Palsu Saat Video Call

Zoom mengumumkan Deepfake Risk Detection yang bisa menandai video atau suara peserta yang diduga palsu saat meeting. Ini cara kerjanya, jadwal rilis Desember 20

Zoom sedang menyiapkan fitur baru bernama Deepfake Risk Detection. Fitur ini akan menganalisis video dan suara peserta meeting secara langsung, lalu memberi tanda kalau ada gambar atau audio yang kemungkinan sudah dimanipulasi di luar Zoom. Pengumuman ini disampaikan di Zoomtopia, konferensi tahunan Zoom, pada 20 Oktober 2026, dan fiturnya dijadwalkan hadir pada Desember 2026.

Topik ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Video call sekarang dipakai untuk wawancara kerja, rapat dengan klien, sampai urusan transfer dana antar-divisi. Begitu wajah dan suara bisa dipalsukan dengan AI dalam hitungan menit, pertanyaan "orang di layar ini benar-benar dia atau bukan?" jadi pertanyaan yang serius.

Artikel ini akan menjelaskan bagaimana fitur deteksi deepfake di Zoom bekerja, kapan fitur ini bisa dipakai, fitur AI lain yang ikut diumumkan seperti Pose Correction dan Touch Up My Voice, plus catatan praktis buat kantor, HRD, dan pengguna Zoom di Indonesia.

Cara kerja fitur deteksi deepfake di Zoom

Menurut pengumuman resmi Zoom, Deepfake Risk Detection memberikan analisis real-time terhadap sinyal video dan audio peserta. Tujuannya adalah membantu mengenali video atau suara yang mungkin sudah diubah di luar aplikasi Zoom, misalnya lewat software face swap atau kloning suara, lalu menandainya sebagai potensi deepfake.

Ada beberapa poin penting dari cara kerjanya:

  1. Berjalan saat meeting berlangsung. Analisis dilakukan secara langsung, bukan setelah rekaman selesai.
  2. Memakai indikator tingkat keyakinan. Zoom menyebut fitur ini menandai potensi deepfake dengan confidence indicator. Artinya, hasilnya berupa tingkat kemungkinan, bukan vonis mutlak "palsu" atau "asli".
  3. Fokus pada manipulasi dari luar Zoom. Kalimat yang dipakai Zoom adalah media yang "may have been altered outside of Zoom". Efek bawaan Zoom sendiri, seperti background virtual, tentu bukan sasaran fitur ini.
  4. Dirancang untuk tiga skenario. Zoom menyebut proses rekrutmen, interaksi dengan pelanggan, dan meeting biasa sebagai tempat fitur ini akan dipakai.

Zoom juga memberi contoh kasus yang cukup gamblang. Bayangkan seorang kandidat kerja yang ikut wawancara video ternyata bukan orang yang dia akui, atau seseorang yang menelepon sambil menyamar sebagai vendor tepercaya. Menurut Zoom, ancaman seperti ini terus meningkat karena media sintetis makin cepat dibuat dan makin sulit dikenali.

Catatan: Zoom belum menjelaskan secara rinci model AI apa yang dipakai, seberapa akurat deteksinya, atau apakah peserta lain ikut melihat tanda tersebut. Detail seperti ini biasanya baru muncul mendekati tanggal rilis.

Jadwal rilis dan siapa yang kebagian

Untuk saat ini, jadwal yang sudah disebut Zoom cukup jelas, walaupun detail paketnya belum lengkap.

  • Deepfake Risk Detection: diperkirakan hadir Desember 2026.
  • Pengumuman: Zoomtopia, 20 Oktober 2026.
  • Target pengguna: fitur ini masuk dalam kelompok alat keamanan dan tata kelola AI untuk organisasi, yang dikelola oleh admin IT.

Karena diumumkan bersama fitur-fitur untuk admin perusahaan, besar kemungkinan Deepfake Risk Detection akan lebih dulu ditujukan ke akun bisnis dan enterprise. Namun, Zoom belum mengumumkan paket mana yang mendapat fitur ini, apakah gratis, atau perlu add-on berbayar. Jadi, pengguna akun Zoom gratis sebaiknya belum berharap banyak sampai ada pengumuman resmi berikutnya.

Tips: Kalau kantor teman-teman memakai Zoom Workplace berlangganan, admin IT bisa mulai memantau halaman pengumuman dan pengaturan admin Zoom menjelang Desember. Fitur keamanan seperti ini biasanya perlu diaktifkan dari sisi admin dulu.

Fitur AI lain untuk admin: kontrol agen dan label kerahasiaan

Deepfake Risk Detection bukan satu-satunya fitur keamanan yang diumumkan. Zoom membawa satu paket alat untuk membantu perusahaan mengendalikan aktivitas AI, terutama agen AI yang makin sering membaca isi meeting, data pelanggan, dan sistem internal.

Berikut daftarnya beserta jadwal yang disebut Zoom:

  1. Centralized AI Management (Desember 2026). Admin bisa melihat agen AI apa saja yang berjalan, mengatur kebijakan di level akun, mengaudit aktivitas AI, dan mengontrol agen buatan pengguna.
  2. Custom AI Guardrails (kuartal pertama 2027). Perusahaan bisa membuat aturan supaya informasi tertentu tidak muncul di ringkasan atau jawaban AI. Contohnya, data keuangan sensitif atau obrolan soal pesaing. Aturannya juga bisa mewajibkan review manusia sebelum konten AI dikirim ke klien.
  3. Integrasi Sensitivity Label dengan Microsoft Purview (sudah tersedia). Label kerahasiaan dari Microsoft 365 bisa disinkronkan ke Zoom Meetings dan Whiteboard, jadi peserta tahu seberapa rahasia sebuah meeting.
  4. Compliance Manager untuk My Notes dan Zoom Canvas (Januari 2027). Ringkasan, catatan, dan dokumen buatan AI bisa diarsipkan untuk kebutuhan retensi data.

Kalau dilihat bersama-sama, arahnya cukup jelas. Zoom ingin perusahaan merasa aman memakai AI di dalam meeting, dengan catatan admin tetap memegang kendali penuh atas apa yang boleh diakses dan dihasilkan oleh AI.

Pose Correction dan Touch Up My Voice, fitur yang bikin sedikit dilema

Di saat yang sama, Zoom juga mengumumkan dua fitur yang justru mengubah tampilan dan suara pengguna dengan AI. Ini yang membuat sebagian orang mengernyitkan dahi, karena terdengar agak bertolak belakang dengan semangat melawan deepfake.

  • Pose Correction (Desember 2026). Fitur ini memakai AI di perangkat untuk membuat presenter tetap terlihat fokus ke kamera saat sedang melirik catatan atau layar kedua. Zoom menegaskan efeknya bekerja dalam rentang yang wajar dan kembali normal dengan halus, supaya hasilnya tetap terlihat asli.
  • Touch Up My Voice (Desember 2026). Fitur ini juga memakai AI di perangkat untuk menghaluskan suara dan aksen secara real-time. Menurut Zoom, isi kalimat, cara bicara, dan bahasa yang dipakai tidak diubah. Tujuannya supaya ucapan terdengar lebih jelas.

Media The Verge menyoroti tiga fitur ini sekaligus dalam satu laporan: alat pendeteksi deepfake, fitur yang membuat presenter "terlihat lebih terlibat", dan fitur yang menghaluskan suara serta aksen. Situs TechLayers juga mengingatkan bahwa aksen adalah bagian wajar dari cara orang berbicara, bukan masalah yang harus diperbaiki. Pengguna perlu tahu persis apa yang diubah oleh fitur ini dan apakah fitur ini bisa dimatikan.

Bedanya tetap penting untuk dipahami. Pose Correction dan Touch Up My Voice adalah efek bawaan Zoom yang dipilih sendiri oleh pengguna. Sementara itu, Deepfake Risk Detection menyasar manipulasi yang dibuat di luar Zoom, biasanya tanpa sepengetahuan lawan bicara.

Fitur meeting baru lainnya dari Zoomtopia 2026

Selain urusan keamanan, Zoomtopia 2026 juga membawa beberapa fitur meeting yang cukup menarik untuk pengguna sehari-hari.

  1. Voice Translator untuk semua peserta (November 2026). Lewat add-on Voice Translator, pembicara bisa menyiarkan audio terjemahan ke semua peserta sekaligus. Zoom juga menyiapkan fitur kloning suara, supaya suara terjemahan tetap mirip dengan suara asli pembicara.
  2. Meeting Icebreakers (Desember 2026). Host bisa membuat aktivitas pembuka seperti word cloud atau kuis langsung di dalam meeting dengan bantuan AI, tanpa perlu aplikasi tambahan atau kode QR.
  3. High Frame Rate Screen Sharing (sudah tersedia). Bagian dari add-on Enhanced Media ini membuat video atau animasi yang dibagikan lewat share screen terlihat lebih mulus saat Ultra HD 2160p aktif.
  4. Live Meeting Assist (kuartal pertama 2027). AI akan memberi saran langsung selama meeting soal keterlibatan peserta, tempo bicara, dan kejelasan penyampaian.

Menariknya, fitur kloning suara di Voice Translator juga memakai teknologi yang mirip dengan yang dipakai pembuat deepfake. Bedanya, di sini suara tiruan dipakai secara terbuka dan atas izin pembicara sendiri. Ini menunjukkan bahwa ke depan, garis antara "suara asli" dan "suara buatan AI" di meeting online akan makin tipis.

Catatan buat kantor dan pengguna Zoom di Indonesia

Zoom masih jadi salah satu aplikasi video call yang paling sering dipakai di Indonesia, mulai dari rapat kantor, kelas online, seminar, sampai wawancara kerja jarak jauh. Karena itu, kehadiran fitur deteksi deepfake ini cukup relevan buat banyak orang di sini.

Beberapa hal yang patut diperhatikan:

  • HRD dan rekrutmen remote. Wawancara kerja lewat video makin umum, termasuk untuk posisi yang bekerja dari rumah. Skenario kandidat palsu yang dicontohkan Zoom bisa saja terjadi di perusahaan mana pun.
  • Tim keuangan dan admin. Modus penipuan yang mengaku sebagai atasan atau vendor lalu meminta transfer dana adalah pola lama. Bedanya, kini wajah dan suara pelaku bisa ikut dipalsukan.
  • Belum ada kepastian untuk akun gratis. Banyak sekolah, komunitas, dan UMKM di Indonesia masih memakai Zoom gratis. Sampai Zoom memberi kepastian, anggap saja fitur ini belum tentu tersedia untuk akun tersebut.
  • Jangan bergantung penuh pada satu alat. Indikator tingkat keyakinan berarti hasilnya bisa saja meleset. Fitur ini sebaiknya dianggap sebagai lapisan tambahan, bukan satu-satunya pengaman.

Perlu dicatat juga, perlindungan serupa mulai muncul di tempat lain. OPPO, misalnya, menyebut fitur AI Call Guard di ColorOS 17 memakai AI di perangkat untuk mendeteksi risiko penipuan seperti suara sintetis dan face swap saat panggilan. Jadi, deteksi deepfake perlahan menjadi fitur standar, baik di aplikasi meeting maupun di HP.

Cara berjaga-jaga dari deepfake sebelum fiturnya rilis

Sambil menunggu Desember, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa langsung dipraktikkan di kantor maupun untuk urusan pribadi.

  1. Verifikasi lewat jalur kedua. Kalau ada permintaan transfer atau data penting lewat video call, konfirmasi ulang lewat nomor telepon atau chat yang sudah dikenal sebelumnya.
  2. Minta gerakan spontan. Meminta lawan bicara menoleh ke samping atau menutup sebagian wajah dengan tangan bisa membantu, karena beberapa alat face swap masih kesulitan dengan gerakan seperti ini.
  3. Pakai fitur keamanan meeting yang sudah ada. Ruang tunggu (waiting room), passcode, dan pembatasan peserta yang hanya bisa masuk dengan akun terverifikasi tetap penting.
  4. Buat aturan internal yang jelas. Misalnya, transfer dana di atas nominal tertentu wajib disetujui dua orang, apa pun instruksi yang muncul di video call.
  5. Beri label pada meeting rahasia. Untuk kantor yang sudah memakai Microsoft 365 dan Microsoft Purview, integrasi label kerahasiaan di Zoom sudah bisa dipakai sekarang.

Peringatan: Deepfake tidak selalu terlihat aneh. Kualitas video yang buruk atau koneksi yang patah-patah justru sering dipakai pelaku untuk menutupi kejanggalan. Kalau ragu, lebih baik menunda keputusan dan memverifikasi dulu.

Checklist

  • Cek apakah kantor memakai paket Zoom Workplace berbayar atau akun gratis
  • Minta admin IT memantau pengumuman Deepfake Risk Detection menjelang Desember 2026
  • Terapkan verifikasi lewat jalur kedua untuk permintaan transfer atau data sensitif
  • Aktifkan waiting room dan passcode di meeting penting
  • Buat aturan persetujuan dua orang untuk transaksi besar
  • Putuskan kebijakan kantor soal pemakaian Pose Correction dan Touch Up My Voice

Poin penting

  • Zoom mengumumkan Deepfake Risk Detection di Zoomtopia pada 20 Oktober 2026.
  • Fitur ini menganalisis video dan audio secara real-time dan menandai potensi deepfake dengan indikator tingkat keyakinan.
  • Jadwal rilisnya Desember 2026, tetapi paket dan harganya belum diumumkan.
  • Zoom juga menyiapkan Pose Correction dan Touch Up My Voice untuk Desember 2026.
  • Fitur admin seperti Centralized AI Management dan AI Guardrails menyusul pada Desember 2026 dan kuartal pertama 2027.

Referensi

  1. Zoom Newsroom (2026). Zoom introduces AI tools designed to give enterprises greater visibility and control over AI activity
  2. Zoom Newsroom (2026). Zoom introduces smarter meetings, seamless workspaces for richer collaboration, and intelligent calling
  3. Zoom Newsroom (2026). Zoom advances its AI strategy with a new Unified Context Layer that helps turn meeting conversations into completed work
  4. The Verge (2026). Zoom is launching a new "deepfake risk detection" tool for video calls
  5. TechLayers (2026). Zoom to Launch Deepfake Detection Tool in December 2026
  6. OPPO Global (2026). OPPO Find X10 Series Launches Globally with True-to-Life Imaging and All-Round Flagship Upgrades

Pertanyaan Umum

Kapan fitur deteksi deepfake Zoom bisa dipakai?
Zoom menyebut Deepfake Risk Detection diperkirakan hadir pada Desember 2026. Fitur ini diumumkan di Zoomtopia pada 20 Oktober 2026, jadi saat ini fitur tersebut belum bisa dipakai.
Apakah fitur ini tersedia untuk akun Zoom gratis?
Zoom belum mengumumkan paket mana yang mendapat fitur ini. Karena diumumkan bersama alat keamanan untuk admin perusahaan, kemungkinan besar fitur ini lebih dulu ditujukan ke akun bisnis, tetapi kepastiannya masih menunggu pengumuman resmi.
Bagaimana Zoom tahu sebuah video adalah deepfake?
Zoom menganalisis sinyal video dan audio peserta secara real-time untuk mencari tanda manipulasi yang dilakukan di luar Zoom. Hasilnya ditampilkan dengan indikator tingkat keyakinan, jadi sifatnya peringatan kemungkinan, bukan bukti mutlak.
Apakah Pose Correction dan Touch Up My Voice termasuk deepfake?
Keduanya memang memakai AI untuk mengubah tampilan dan suara, tetapi fitur ini bawaan Zoom dan dipilih sendiri oleh pengguna. Deepfake Risk Detection menyasar manipulasi dari luar Zoom yang biasanya dipakai untuk menipu lawan bicara.
Apa yang bisa dilakukan sekarang untuk mencegah penipuan deepfake lewat video call?
Langkah paling efektif adalah memverifikasi permintaan penting lewat jalur kedua, misalnya telepon ke nomor yang sudah dikenal. Selain itu, aktifkan waiting room dan passcode, lalu buat aturan persetujuan berlapis untuk transfer dana.

Kesimpulan

Deepfake Risk Detection adalah langkah Zoom untuk menjawab masalah yang makin nyata: wajah dan suara di layar tidak lagi bisa langsung dipercaya. Fitur ini akan menganalisis video dan audio secara real-time, lalu memberi tanda dengan tingkat keyakinan kalau ada peserta yang kemungkinan dipalsukan. Jadwalnya Desember 2026, sementara detail paket dan harganya masih ditunggu.

Buat kantor, HRD, dan tim keuangan di Indonesia, fitur ini layak dipantau. Namun, sambil menunggu, kebiasaan verifikasi lewat jalur kedua dan aturan persetujuan berlapis tetap jadi pengaman yang paling bisa diandalkan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!

Tinggalkan komentar